Strategi Pengembangan Wisata Budaya Rumah Adat Patan Di Kecamatan Rembon, Tana Toraja

Penulis

  • Sepsyuni Sakti Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa
  • Rudi Latief Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa
  • Tri Budiharto Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa
  • Rahmawati Rahman Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa
  • Aslam Jumain Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa

Kata Kunci:

Cultural tourism, Patan Traditional House, development strategy, Chi-Square, SWOT

Abstrak

Abstract. This study identifies factors associated with the development of Patan Traditional House cultural tourism and formulates a conservation-oriented strategy. The research used a mixed descriptive approach through field observation, questionnaires administered to 100 visitors, interviews, and documentation. Categorical relationships were analyzed using the Chi-Square test, while internal and external strategic factors were evaluated through strengths, weaknesses, opportunities, and threats analysis. Attraction, accessibility, and facilities showed significant relationships with tourism development, with Chi-Square values of 19.578, 18.634, and 18.765, respectively. Institutional capacity and information-promotion were not significant, with values of 5.515 and 9.336, below the critical value of 9.49. The strategic position was in quadrant I, indicating a growth-oriented strategy based on cultural strengths and policy opportunities. Priority actions comprise heritage conservation and interpretation, regular maintenance of visitor facilities, a collaborative management unit involving local communities, integrated tourism routes, and consistent digital promotion.

Abstrak. Penelitian ini mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan pengembangan wisata budaya Rumah Adat Patan serta merumuskan strategi yang berorientasi pada pelestarian. Pendekatan deskriptif campuran diterapkan melalui observasi lapangan, kuesioner terhadap 100 pengunjung, wawancara, dan dokumentasi. Hubungan antarkategori dianalisis menggunakan uji Chi-Square, sedangkan faktor strategis internal dan eksternal dianalisis melalui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Daya tarik, aksesibilitas, dan fasilitas berhubungan signifikan dengan pengembangan wisata, dengan nilai Chi-Square masing-masing 19,578; 18,634; dan 18,765. Kelembagaan serta informasi dan promosi tidak signifikan, dengan nilai 5,515 dan 9,336, lebih kecil daripada nilai kritis 9,49. Posisi strategi berada pada kuadran I yang menunjukkan strategi pertumbuhan berbasis kekuatan budaya dan peluang kebijakan. Prioritas pengembangan meliputi konservasi dan interpretasi warisan, pemeliharaan fasilitas, pembentukan pengelola kolaboratif yang melibatkan masyarakat, integrasi rute wisata, serta promosi digital yang konsisten.

Referensi

Agresti, A. (2018). An introduction to categorical data analysis (3rd ed.). John Wiley & Sons.

Baharudin, B., Junaidi, M. A., & Ariadi, L. M. (2023). Authenticity of traditional houses, Islam and cultural tourism products and services. Ulumuna, 27(1), 467–499. https://doi.org/10.20414/ujis.v27i1.776

Calvi, L., Weber, J., Asmar, D., & Kalantari, H. (2022). A framework for stakeholders’ involvement in digital productions for cultural heritage tourism. Multimodal Technologies and Interaction, 6(7), 52. https://doi.org/10.3390/mti6070052

Cooper, C., Fletcher, J., Fyall, A., Gilbert, D., & Wanhill, S. (2008). Tourism: Principles and practice (4th ed.). Pearson Education.

Deffinika, I., Prastiwi, M. R. H., & Arinta, D. (2022). Application of cultural tourism using community-based tourism in the Kayutangan Heritage Area of Malang City. KnE Social Sciences, 489–505. https://doi.org/10.18502/kss.v7i16.12191

Geçikli, R. M., Turan, O., Lachytová, L., & Dağlı, A. (2024). Cultural heritage tourism and sustainability: A bibliometric analysis. Sustainability, 16(15), 6424. https://doi.org/10.3390/su16156424

Ginting, G., Dewi, I. J., & Maesaroh, I. (2023). Development concept and strategy for creative tourism of community-based tourism destinations in Yogyakarta. Ilomata International Journal of Management, 4(1), 58–72. https://doi.org/10.52728/ijjm.v4i1.637

Gürel, E., & Tat, M. (2017). SWOT analysis: A theoretical review. The Journal of International Social Research, 10(51), 994–1006. https://doi.org/10.17719/jisr.2017.1832

Mzembe, A. N., Koens, K., Calvi, L., & Kilango, N. C. (2023). The institutional antecedents of sustainable development in cultural heritage tourism. Sustainable Development, 31(4), 2196–2211. https://doi.org/10.1002/sd.2565

Nyaupane, P. (2019). Cultural heritage tourism management in Pashupatinath Area. Nepalese Culture, 8, 95–106. https://doi.org/10.3126/nc.v8i0.27504

Putra, I. D. G. A. D., Adhika, I. M., & Yana, A. A. G. A. (2021). Reviving cultural tourism in Kendran Bali, Indonesia: Maintaining traditional architecture and developing community-based tourism. Civil Engineering and Architecture, 9(2), 328–338. https://doi.org/10.13189/cea.2021.090206

Rashid, A. M., Sidyawati, L., & Tukiman, N. I. (2023). Digital preservation of Rumah Tukang Kahar for cultural heritage tourism. ARSNET, 3(2). https://doi.org/10.7454/arsnet.v3i2.71

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Republik Indonesia. (2010). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Republik Indonesia. (2022). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya.

Republik Indonesia. (2025). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Tana Toraja, Pemerintah Kabupaten. (2011). Peraturan Daerah Kabupaten Tana Toraja Nomor 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja Tahun 2011–2031.

Wang, C., Wang, Y., & Edelheim, J. (2024). Tourism commercialisation and the frontstage–backstage metaphor in intangible cultural heritage tourism. Tourist Studies, 24(3), 246–265. https://doi.org/10.1177/14687976241251514

Weng, L., He, B.-J., Liu, L., Li, C., & Zhang, X. (2019). Sustainability assessment of cultural heritage tourism: Case study of Pingyao Ancient City in China. Sustainability, 11(5), 1392. https://doi.org/10.3390/su11051392

Yasir, Y., Firzal, Y., Sulistyani, A., & Yesicha, C. (2021). Penta helix communication model through community-based tourism for tourism village development in Koto Sentajo, Riau, Indonesia. GeoJournal of Tourism and Geosites, 37(3), 851–860. https://doi.org/10.30892/gtg.37316-718

##submission.downloads##

Diterbitkan

2026-03-31